jang_kasep wrote:
Sabar kang sabar...nyebut nyebut buuttt buuttt buuttt
Saya juga agak bingung sama fatwa haram merokok MUI, saya dulu sempat merokok walaupun sekarang tidak lagi, tapi saya tidak serta merta setuju mengharamkan merokok (walaupun secara nurani sih setuju

)
Ayah saya merokok, kk saya merokok, ade saya merokok, om saya, kakek saya, teman dan sahabat saya, tetangga saya juga merokok dan itu menjadikan saya perokok pasif paling aktif karena dimana-mana saya selalu bertemu, mengobrol, bersilaturahmi dengan para perokok.
Dan kata para ahli kesehatan menjadi perokok pasif jauh lebih berbahaya ketimbang menjadi perokok aktif. Jadi memang seharusnya pemberantasan merokok bukan dengan mengharamkan rokok, tapi dengan penegakan hukum yang tegas dari pemerintah (lagi2 itulah masalah yang sulit dilakukan saat ini

)
Usul saya sih naikin pajak cukai rokok ky di luar negeri aja, naikin pajaknya sampai 200%. Pada akhirnya nanti bila harga rokok terlalu tinggi orang akan mulai enggan untuk merokok, gunakan pajak progressive semakin tinggi kadar nikotinnya semakin tinggi besar cukai rokoknya. Jadi rokok yang kretek (yang memang lebih tinggi nikotinnya) harus lebih besar pajaknya dibanding yang mild. Lalu rokok import kenai pajak PPNBM (Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah) sehingga harganya 3 kali lipat dibanding harga di negara asalnya. Nah penjual kan ga akan mau jual rugi sehingga dia akan mengurangi produksinya, kemudian perokok juga ga akan mau membayar terlalu mahal sehingga dia akan minimal mengurangi konsumsi rokoknya apalagi bila di area2 umum dibuat aturan tegas untuk tidak boleh merokok pasti orang mikir2 dulu beberapa kali untuk merokok di area umum. Sehingga pada akhirnya nanti akan mengurangi jumlah penderita sakit dan efek negatif lain yang diakibatkan merokok. Jadi babe gw akan brenti ngerokok, abang gw juga, ade gw juga, sahabat2 gw, tetangga2 gw, temen2 gw akan lebih sehat paru-parunya. Dan Indonesia akan menjadi lebih sehat.
Hapunteun nya nu ngarokok lamun nyerempet2

Buut... buutt... buuudd lo di mana?
Saya bukannya apa-apa...
kadang2 cuman aneh aja sama orang2
yang ngurusin hal2 seperti ini.
Gimana nggak terkesan setengah2 menuntaskan
permasalahan ini. Kalo emang HARAM ya udah
tutup pabriknay segera semua. Beres! Kalo cuman
fatwa yang ditujukan buat perokoknya saya pikir
percuma... percuma... percuma....
Apalagi cuman dilarang merokok di tempat2 umum.
Fatwa itu kan seharusnya berlaku buat semua
yang berhubungan sama SI ROKOK tersebut.
Orang yang ngerokok, yang jual, yang bikin,
yang mendistribusikannya, termasuk yang ngeteng2
itu rokok di jalanan.
Kok selama ini yang jadi objek penderita
malah para perokoknya sih...!!!!!
Saya ngerasa tersungging dong...
Kenapa nggak bikin fatwa HARAM buat
yang memproduksi rokoknya....
Fatwa memproduksi MIRAS juga dong
yang digembor2in. Buktinya yang produksi
MIRAS kan masih banyak, bahkan di daerah
kita aja masih ada tuh di jalan akses masuk
ke Sentul lewat jalan Perumahan anggraini,
gangnya setelah jagorawi sebelah kiri dari arah citeureup.
Saya lupa nama daerahnya, pokoknya deket2 pabrik
Tjimanituka yang bikin tinta itu deh.
Saya mah beregetan aja sama orang2
yang ngerti Fatwa ini....
Saya mah ngedukung2 aja... Sumpah...!!!!